Diri (2)

apa aku? siapa aku?Dalam tulisan yang lalu saya membahas diri dari segi metafisis, bahkan mistis yang terkesan abstrak. Keabstrakan tersebut juga semakin menyampah karena tidak ada kesimpulan pasti yang didapat selain bahwa mengenal diri itu penting dan harus.

Dalam tulisan kali ini, saya mencoba membahas diri dalam wilayah yang agak membumi dan agak lebih bisa dikaji secara empiris. Namun saya juga tidak menjamin ada kesimpulan nyata yang dihasilkan. Apalagi pembahasan tentang diri ini hanyalah “agak” membumi, tidak sepenuhnya membumi.

***

Dalam kajian filsafat aliran eksistensialisme dengan tokohnya yang terkenal Mulla Shadra, Heidegger dan Jean Paul Sartre, eksistensi adalah hal yang paling mendasar. Bahkan eksistensi itu lebih mendasar dibanding hal. Di lain pihak ada aliran filsafat esensialisme dan realisme yang berpendapat bahwa dasar segala hal adalah esensinya.

Saat ini saya hanya akan membahas dari paradigma eksistensialisme. Dalam eksistensialisme, subyek atau realitas memiliki atribut-atribut yang melekat padanya. Atribut di sini di bagi menjadi dua jenis. Jenis pertama adalah esensi, sedangkan yang kedua adalah aksiden.

Esensi adalah atribut yang melekat pada sebuah realitas yang membuatnya berbeda dengan realitas-realitas lain. Misal definisi manusia adalah hewan yang berakal budi. Maka frase berakal budi di sini merupakan esensi. Berakal budi adalah hal yang membedakan manusia dengan subyek-subyek lain yang berada dalam satu genus bernama “hewan”. Artinya, esensi adalah hal yang membuat sesuatu bisa dimasukkan dalam kategori manusia.

Semakin rumit suatu realitas, maka semakin banyak pula esensi yang menempel dalam dirinya. Sebagai contoh manusia di atas selain memiliki esensi berupa “berakal budi” yang membedakannya dari hewan lain, ia juga memiliki esensi sebagai hewan yang membedakannya dari makhluk hidup lain. Bahkan juga memiliki esensi sebagai makhluk hidup yang membedakannya dari benda lain. Hal ini berbeda dengan subyek “makhluk hidup” yang lebih umum dan leih sederhana dibanding manusia sehingga ia tidak memiliki esensi kehewanan atau kemanusiaan. Atau bisa disimpulkan bahwa manusia sebagai subyek yang lebih rumit memiliki esensi-esensi yang melekat pada subyek makhluk hidup. Namun ada esensi-esensi yang dimilki manusia yang tidak dimiliki makhluk hidup karena makhluk hidup sifatnya lebih umum.

Sementara itu, aksiden adalah atribut-atribut yang melekat dalam suatu realitas namun hal tersebut tidak menjadi faktor pembeda suatu realitas tersebut dari realitas-realitas lain. Misal dalam kasus manusia. Manusia yang bermata sipit maupun bermata belo, berhidung mancung maupun berhidung pesek, gemar dzikir maupun gemar menenggak miras, semuanya tetap digolongkan sebagai manusia. Karena atiribut-atribut yang melekat yang disebut tadi bukanlah hal yang esensial yang bisa menghilangkan kemanusiaan manusia-manusia yang menyandang atribut-atribut tersebut.

Nah dalam kaitannya dengan diri, kali ini saya akan dengan membicarakan mengenai esensi. Bagaimanakah implikasi dari penjelasan mengenai esensi di atas terhadap pembahasan akan diri? Sesuatu apakah yang esensial dalam diri saya? Hal esensial apakah yang membedakan Aku sebagai individu dengan 6 milyar manusia lain yang saat ini hidup di muka bumi dan entah berapa manusia yang pernah hidup dari Adam sampai kiamat? Apakah jawaban dari pertanyaan “Apa itu Aku?”? Apakah kelanjutan dari pernyataan “Aku adalah manusia yang…”?

Setelah lama berpikir, terbesit di pikiran saya bahwa hal yang membuat saya berbeda dengan manusia lain adalah sidik jari saya. Hal ini tidak terlalu mengada-ada, karena scientifically hal ini terbukti. Sidik jari setiap manusia adalah unik. Sidik jari adalah layaknya bar code yang berfungsi membedakan individu manusia dengan individu manusia lain. Bahkan konon kabarnya sampai sekarang belum pernah ditemukan 2 orang manusia yang memiliki sidik jari identik.

Namun akhirnya saya kembali berpikir. Bagaimana jika seseorang terpotong kedua tangan dan kakinya sehingga tidak memiliki jari apalagi sidik jari? Bagaimana juga dengan mereka yang terlahir tanpa jari bahkan tanpa tangan dan kaki? Apakah manusia-manusia seperti ini kemudian kehilangan keunikan dirinya?

Kemudian saya mulai berpikir sambil googling dan kemudian menemukan ada atribut-atribut pembeda lain untuk mengidentifikasi manusia. Hal itu disebut sebagai sistem biometrika. Sidik jari juga salah satu jenis biometrika tersebut. Namun selain sidik jari, ternyata ada banyak sistem biometrika yang sudah ada saat ini.

Namun akhirnya saya berpikir kembali. Sistem-sistem biometrika tersebut yang sampai sekarang dikembangkan hanya menyangkut tataran fisik. Bagaimana jika nantinya ditemukan cara untuk mengubah atribut-atribut fisik tersebut sehingga bisa disamakan dengan manusia lain? Apakah kemudian keunikan tersebut hilang dan tidak ada lagi keakuan karena penyandang esensi diri menjadi dua orang? Atau bagaimana jika atribut-atribut tersebut diubah menjadi berbeda dari sebelumnya? Apakah kemudian diri bisa berubah-ubah segampang itu?

Apalagi jika ditambah kepercayaan eskatologi saya yang percaya adanya kehidupan setelah kematian. Kehidupan setelah hancurnya fisik tubuh manusia. Kepercayaan yang tidak membatasi “ada” hanya menjadi “hidup di dunia”. Apakah kemudian dalam kehidupan setelah ini sudah tidak ada lagi pembeda antara manusia satu dengan manusia lain karena esensi pembeda berupa sistem biometrika telah hilang sejalan dengan hilangnya fisik? Atau bahkan sudah tidak lagi masuk dalam kategori manusia?

Dari pembahasan di atas bisa disimpulkan bahwa pengidentifikasian diri hanya dalam tataran fisik tidaklah sempurna. Sebab, diri ternyata tidak hanya terdiri dari aspek fisik, melainkan juga aspek non fisik atau juga bisa disebut psikis (jiwa).

Kemudian muncul pertanyaan apakah esensi manusia adalah faktor-faktor kejiwaannya? Faktor-faktor kejiwaan di sini bisa dikatakan sebagai kepribadian. Kepribadian ini, menurut beberapa literatur psikologi yang saya baca, terutama menurut Gordon Allport, memang tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Menurutnya, tidak ada 2 orang yang memiliki kepribadian yang sama.

Namun kemudian muncul pertanyaan apakah kepribadian ini akan dilihat sebagai sesuatu yang utuh berupa “jiwa” setiap orang secara unik ataukah akan dilihat secara partikular? Utuh di sini maksudnya kepribadian tersebut dilihat secara utuh dan komprehensif dalam jiwa seseorang. Partikular di sini maksudnya kepribadian terebut kemudian dipisah-pisah lagi dalam bagian-bagian yang menyusunnya. Misalnya kejujuran dalam diri seseorang adalah aspek partikular dari jiwa seseorang secara keseluruhan.

Tentunya jika menggunakan opsi kedua, keakuan seorang manusia akan bisa dilihat jika melekatkan atribut-atribut esensial satu persatu ke dalam diri manusia. Misal atribut jujur, maka akan menciptakan sebuah kategori “manusia jujur”. Kemudian setelah itu dilekatkan lagi atribut dermawan kepada individu-individu yang tergabung dalam genus “manusia jujur” tersebut. Begitu seterusnya hingga akhirnya ditemukan hanya satu manusia yang berada dalam sebuah genus sehingga manusia tersebut telah terindividuasi secara sempurna.

Akhirnya setelah berkelana dalam alam pikir yang tidak jelas ini, saya menyimpulkan bahwa pembahasan mengenai esensi diri ini akan lebih membumi jika menggunakan pendekatan jiwa secara partikular. Artinya, saya akan mengungkapkan atribut-atribut kejiwaan atau kepribadian yang melekat dalam diri saya sehingga akhirnya akan disimpulkan bahwa diri saya ini adalah seperti ini.

Memang jika dikaji dari sisi eksistensialisme, pembahasan mengenai jiwa secara keseluruhan akan lebih tepat. Pendekatan jiwa yang dilihat secara utuh, atau bahkan gabungan dari fisik dan jiwa secara utuh akan menghasilkan kesadaran eksistensi seperti yang ada dalam kalimat “yang mengenal dirinya mengenal Tuhannya”. Hal ini akan membawa kesimpulan bahwa “Aku adalah aku”, tidak ada yang lebih jelas daripada ini.

Namun demi kepraktisan pembahasan mengenai diri ini, akan lebih baik jika pembahasan yang akan datang adalah mengenai atribut-atribut esensial yang melekat dalam diri atau jiwa saya. Atau dengan bahasa yang lebih simple, saya akan mencoba mengenali kepribadian saya sendiri.

Referensi:

Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Buku Daras Filsafat Islam, Jakarta: Shadra Press

Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy From Its Origin To Present

Stephen Palmquis, The Tree Of Philosophy

Martin Heidegger, Being and Time


http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/03/19/m14aiu-subhanallah-inilah-mukjizat-alquran-tentang-sidik-jari-sebagai-identitas


http://www.adipedia.com/2011/03/tubuh-adalah-password-kita.html

Tentang panjikeris

my lifestyle determines more than just my deathstyle

Posted on 19 Maret 2012, in Curhat, Filsafat and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. Aku adalah aku.. AKu yang berpikir itulah selama aku hidup.. AKu yang berteriak mencari kebenaran diri terus terusik dengan keramaian dalam kesunyian..

    intinya selama kita berpikir kita bisa maka bisa. so simple. itu lah yang aku percaya..

    postingan bagus Panji ,, keep posting

  1. Ping-balik: Diri (3-habis) « Isi otak Panji

Silakan dikomentari

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: