Kebijakan Fiskal dan Moneter di Uni Eropa, Sebuah Analisis Ngawur

Beberapa hari lalu, seorang teman yang akan maju debat bahasa Inggris meminta bantuan saya untuk menganalisis mosi debatnya. Mosi debat itu ialah masalah pro kontra kewenangan Bank Sentral Eropa untuk melakukan veto terhadap rancangan UU Anggaran dari negara-negara Uni Eropa. Mungkin mirip kewenangan DPR Indonesia dalam masalah mensetujui atau tidaknya UU APBN. Meskipun DPR di Indonesia nampaknya lebih besar kuasanya daripada hak veto Bank Sentral Eropa (yang sedang diperdebatkan) dalam hal menentukan anggaran. Tapi saya memang tidak sedang membahas DPR, jadi lupakan saja masalah DPR. Anggap DPR itu tidak pernah ada.

Kemudian siang tadi, saya menerima kuliah Keuangan Publik mengenai kebijakan fiskal. Materi kebijakan fiskal ini memang sudah beberapa kali dibahas di mata kuliah – mata kuliah yang lalu, dan isinya memang diulang-ulang. Tapi saat itu saya jadi teringat kepada Bank Sentral Eropa sebagai lembaga yang menangani urusan kebijakan moneter negara-negara Uni Eropa yang menggunakan mata uang euro. Negara-negara tersebut biasa disebut eurozone.

Seperti yang diketahui, instrumen pemerintah dalam mengintervensi perekonomian negara ada dua, yaitu kebijakan fiskal dan moneter. Kebijakan fiskal melalui pengaturan pengeluaran dan penerimaan pemerintah, atau bisa juga disebut kebijakan anggaran. Sementara kebijakan moneter melalui pengaturan peredaran uang di sebuah negara. Dua instrumen tersebut digunakan pemerintah dalam menjalankan fungsinya di bidang perekonomian, yaitu stabilisasi, distribusi, dan alokasi.

European Central Bank (Bank Sentral Eropa)

European Central Bank

Kebijakan moneter dan fiskal sesungguhnya memiliki hubungan yang sangat akrab dan keduanya saling menyokong demi tercapainya target yang ingin dituju oleh pemerintah. Misalnya ketika dilakukan kebijakan fiskal ekspansif (bertujuan menambah gairah perekonomian, melalui defisit anggaran), maka selain menambah gairah perkonomian dan investasi, hal tersebut juga meningkatkan suku bunga. Kemudian beraksilah kawan akrab kebijakan fiskal, yaitu kebijakan moneter. Melalui kebijakan moneter, pemerintah akan menurunkan suku bunga dan hal itu juga akan menambah gairah perekonomian. Jadi terjadi “double hit” dan gairah perekonomian semakin meningkat melalui duet maut antara kebijakan fiskal dan moneter. Namun suku bunga tetap stabil. Demikianlah secara teoritis, hubungan antara kebijakan fiskal dan moneter. Perlu diingat di sini saya tidak akan membahas debat antara kaum monetaris dan keynesian mengenai mana yang lebih baik antara kebijakan fiskal dan moneter.

Keadaan jadi berbeda apabila hal tersebut diaplikasikan di Uni Eropa. Seperti diketahui, hubungan saling menyokong antara kebijakan fiskal dan moneter bisa diatur dengan mudah pada kasus di atas karena kendalinya masih di bawah satu lembaga, yaitu pemerintah suatu negara. Lain halnya di Uni Eropa, pengaturan kebijakan fiskal dan moneter menjadi semakin kompleks karena kebijakan moneter berada di bawah kendali Bank Sentral Eropa, sementara kebijakan fiskal berada di bawah kendali pemerintah masing-masing negara. Memang Uni Eropa pun memiliki “lembaga pemerintahan bersama” yang bisa dikatakan mengatur seluruh negara-negara Uni Eropa walaupun tidak secara penuh (termasuk di bidang kebijakan fiskal). Namun hal ini pun sebenarnya tidak terlalu menggugurkan masalah yang ingin penulis bahas.

Model kelembagaan Uni Eropa yang seperti itu tidak bisa membuat negaranya berkuasa penuh dalam mengatur keuangan negaranya sendiri. Hal tersebut terjadi karena negara-negara Uni Eropa sudah seperti “berat sama dipikul ringan sama dijinjing”. Oleh karena itu pengaturan kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Sentral Eropa akan mempengaruhi seluruh negara yang berada di bawah naungannya, yaitu negara-negara yang menggunakan mata uang Euro (eurozone). Sementara itu, kebijakan fiskal tiap negara dilakukan oleh negara masing-masing dengan pertimbangan dari “lembaga pemerintahan bersama” Uni Eropa lain. Kemungkinan lembaga itu adalah Komisi Eropa. Sebagai catatan, Uni Eropa memiliki 7 instansi pemerintahan termasuk Bank Sentral Eropa dan Komisi Eropa. Untuk lebih jelasnya sila rujuk ke wikipedia.

Nah, yang saya anggap sebagai masalah di sini adalah kebebasan berkehendak negara-negara eurozone mengatur kebijakan ekonomi negaranya. Mungkin saja terjadi konflik antara tujuan negara yang satu dan negara yang lain dalam penentuan kebijakan ekonominya. Taruhlah misalnya Yunani ingin melakukan kebijakan ekspansif, sementara negara lain, misalnya Jerman justru ingin menerapkan kebijakan kontraktif. Jika kebijakan ekspansif dan kontraktif dua negara tersebut berada dalam ranah fiskal, tentunya hal itu tidak terlalu masalah karena kedua negara tersebut memiliki kuasa atasnya secara independen. Meskipun hal tersebut juga harus tetap dalam batasan-batasan yang telah ditentukan bersama anggota-anggota Uni Eropa.

Namun dalam urusan kebjikan moneter, keduanya akan mengalami bentrok. Hal tersebut terjadi karena kebijakan moneter yang dilakukan Bank Sentral Eropa berpengaruh terhadap seluruh negara eurozone. Dengan demikian, Bank Sentral Eropa tidak bisa main-main dalam penentuan kebijakannya.

Jean Claude Trichet, Presiden Bank Sentral Eropa

Jean Claude Trichet

Mari kita gunakan ilustrasi agar lebih jelas. Di satu sisi, Yunani ingin agar Bank Sentral Eropa melakukan kebijakan moneter ekspansif untuk mendorong kebijakan fiskal ekspansif yang telah ditempuhnya. Sebaliknya, Jerman justru menginginkan agar Bank Sentral Eropa melakukan kebijkan moneter kontraktif seirama dengan kebijakan fiskal yang telah ditempuhnya. Dalam hal ini, Bank Sentral harus  memilih salah satunya, atau bersikap netral. Jika Bank Sentral memilih salah satu kebijakan, maka hal itu akan merugikan salah satu pihak. Jika Bank Sentral bersikap netral atau ia menggunakan kebijakan moneter yang tidak berubah dengan tahun sebelumnya, maka kita akan gagal melihat konser duet maut antara kebijakan fiskal dan moneter. Duet yang secara teoritis seperti yang kita bahas tadi sebagai duet yang saling menyokong tercapainya target suatu pemerintah.

Namun demikian, sebenarnya keberadaan lembaga-lembaga pemerintahan bersama Uni Eropa tidak buruk (termasuk Bank Sentral Eropa). Seperti yang tadi saya katakan negara-negara Uni Eropa menerapkan asas gotong royong dan setia kawan. Jadi ketika ada negara yang mengalami kelesuan ekonomi dan butuh suntikan hormon pembangkit gairah ekonomi, maka negara-negara lain akan membantu semampunya. Dengan demikian geliat ekonomi relatif lebih stabil. Kebijakan fiskal dan moneter yang ditempuh pun dilakukan dan dimusyawarahkan secara bersama-sama demi kebaikan bersama. Meskipun terkadang ada pihak yang agak  dirugikan dan pihak yang diuntungkan. Seperti halnya kasus yang saya jadikan contoh tadi, yaitu Yunani dan Jerman yang mengalami konflik kepentingan. Tapi sekali lagi, “berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing”.

Jadi keberadaan Uni Eropa dengan mekanisme pemerintahannya di bidang ekonomi, di satu sisi memiliki kelemahan, yaitu tidak bisa melakukan kebijakan yang akan menguntungkan negaranya sendiri, karena adanya konflik kepentingan dengan negara lain. Namun di sisi lain mekanisme pengaturan seperti ini juga memiliki keuntungan, yaitu menjaga stabilitas dan kemajuan perekonomian secara bersama-sama melalui prinsip gotong royong dan setia kawan. Jadi sebuah negara mungkin tidak bisa memaksimalkan kebijakan nya untuk memperkaya diri sendiri karena ia juga harus memikirkan dampaknya terhadap negara lain. Namun ketika ia mengalami krisis, negara lain juga akan pengertian. Kemudian melalui permusyawarahan kebijakan ekonomi bersama, diharapkan akan tercipta kebijakan yang akan menguntungkan bersama tanpa harus ada yang terlalu terzalimi maupun yang terlalu diuntungkan.
NB= Analisis ini hanyalah analisis awur-awuran. Penulis menggunakan berbagai asumsi dan penyederhanaan yang kemungkinan besar menyebabkan distorsi dan salah analisis.  Selain itu, penulis juga tidak memiliki data-data dan konsep teoritis yang memadai untuk bisa sok-sokan menganalisis hal ini. Jadi analisis ini tidak perlu ditanggapi terlalu serius karena ini hanya sarana belajar bagi penulis. Tentu saja komentar, saran, dan koreksi yang membangun sangat diharapkan oleh penulis.

About panjikeris

my lifestyle determines more than just my deathstyle

Posted on 28 Juni 2011, in Ekonomi and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silakan dikomentari

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: